IBX583577287E51C

Rabu, 21 Agustus 2019

Serba Serbi Bisnis Kuliner di Yogyakarta


Bisnis kuliner banyak menjadi incaran bagi mereka-mereka yang resign dan memilih berprofesi menjadi freelancer. Saat berkesempatan mengambil kuliah MM dengan konsentrasi pemasaran business plan, Manda sengaja tidak mengambil topik "bisnis kuliner", kali ini pengin Manda bahas alasannya satu per satu, siapa tahu bisa menjadi masukan dari sudut pandang yang berbeda untuk teman-teman yang merencanakan membuka bisnis kuliner ya.


  • Kuliner adalah tentang selera, dan selera itu mudah berubah-ubah seperti mood.
Saya dan Panda termasuk orang yang giat mencari kuliner, seperti cerita saya bahwa maksimal bisa mood masak di #DapurManda paling hanya 3x dalam seminggu. Pun sedang rajin banget, sabtu dan minggu, Panda selalu mengajak untuk makan di luar saja. Kalau tidak berdua, ya mengajak mama papa atau ponakan yang kebetulan berada di kota yang sama. 


Kembali tentang selera, bisnis kuliner dengan 1 produk makanan yang tidak dimodifikasi baik rasa ataupun cara memasaknya, akan mudah digerus pasar. Seandainya pun menghasilkan produk marinade ayam goreng yang enak banget, pilihannya enak hanya beberapa waktu. Setelahnya (dalam 3 tahun berikutnya) pasti ada hal lain yang membuat ayam goreng kita masih laris.

Ingat juga teori "mature" bagi sebuah perusahaan, jika tidak melakukan perubahan atau memodifikasi produknya.

  • Tentang Harga dan Mahasiswa
Tentang selera yang bisa dibantah dengan teori tentang harga dan selera mahasiswa. Saya dan Panda sama-sama pernah belajar ilmu ekonomi, sehingga kami berdua sering terjebak oleh percakapan ala-ala komentator. Terlebih, Panda makan siang seperti halnya mahasiswa UGM lainnya, karenanya bahasan tentang kuliner makan siang ala mahasiswa masih menjadi topik hangat seputar menu kita saat zaman dulu kita kuliah.

Korelasi antara harga yang murah dengan selera mahasiswa yang menggabungkan dua waktu makan menjadi satu (baca : porsi yang banyak) menjadi pilihan saat ini untuk membuka bisnis kuliner.

Membuka bisnis kuliner dengan harga yang ramah dengan porsi mahasiswa, sepertinya akan lebih bertahan lama dibandingkan membuka restoran baru dengan harga yang nanggung, walaupun enaknya seperti apa. Contohnya ketika merelakan steak Obonk nggak bisa bertahan di Jogja.


  • Promo GoFood
Ketika belajar business plan, semua aspek ekonomi mendapat porsi yang seimbang. Mulai dari perencanaan, tes pasar, realisasi, dan tentunya didalamnya ada marketing. Memasukkan unsur promosi yang terjangkau di zaman kekinian ternyata menyenangkan ya. Terhampar luas media promosi GRATIS yang bisa dijangkau dari media sosial, seperti : Facebook dan instagram.

Manda sendiri termasuk bagian dari content creator yang memanfaatkan sosial media ini untuk membranding diri sebagai blogger dan vlogger. Mau kenalan dengan akun-akun promosi hasil karya yang Manda hasilkan sebagai work at home Manda ?

Facebook 


Fan Page


Instagram 



YouTube


Kiranya demikian promosi yang bisa dilakukan untuk mengenalkan produk yang kita hasilkan. Tidak berbeda dengan postingan foto-foto menggoda selera untuk bisnis kuliner yang bisa diiklankan melalui facebook atau instagram bersponsor jika memang ingin menjangkau lebih luas dari circle pertemanan kita.

Promosi lain adalah melalui PROMO GOFOOD. Bisnis kuliner di zaman NOW tidak hanya membuka rumah makan offline, melainkan sudah meng-online kan produk makanan melalui media GoFood atau GrabFood. 


Selain menjualkan secara online, juga aktif mempromosikan melalui promo yang ada. Sehingga pelanggan yang belum pernah mencoba, begitu melihat promo akan tergiur untuk mencoba. Dan yang kita kejar adalah repeat ordernya.

Demikian ya, tiga hal yang mudah-mudahan memberi pencerahan bagi sahabat Manda yang hendak membuka bisnis kuliner dan selamat datang di freelancer zone. Bagi yang menyukai kebebasan, menjadi wirausaha atau freelancer adalah pilihan yang menyenangkan dan tidak ada batasan berkreativitas.

Semoga selalu menjadi manusia manfaat dalam karya ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar