IBX583577287E51C

Senin, 21 Agustus 2017

Melatih Kecerdasan Emosional Anak

Kecerdasan Emosional


Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memahami perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain sehingga kita dapat lebih mudah bergaul dengan orang lain. Kecerdasan emosional perlu dikenalkan pada batita saat dia mulai bisa berkomunikasi. Setidaknya, saat batita mulai bisa menangis berarti dia sudah bisa belajar tentang emosi. Kecerdasan emosional dikatakan para ahli sebagai penentu terbesar kebahagiaan dalam hidup. 

Mengapa demikian? Karena anak-anak dengan kecerdasan emosional yang tinggi dapat sangat ramah, kooperatif, optimis dan lebih dapat memecahkan masalah. Mereka cenderung lebih baik perilakunya dan memiliki prestasi akademik yang lebih tinggi.

Salah satunya cara belajar memperkenalkan kecerdasan emosional adalah dengan mengajaknya bepergian dan mengenal banyak hal di luar sana. Kali ini, Piki sedang belajar mengasah emosinya bertemu dengan satwa. 


Sebagai onty Manda, pingin rasanya berteriak : "Jangan ke sana, itu kandang ular!"

Sebenarnya anak-anak tidak punya catatan ketakutan, trauma atau bahkan masa lalu yang tidak menyenangkan tentang sesuatu, sebelum kitalah yang mencoretnya di perjalanan masa kanak-kanaknya.

Sering kita sebagai orang tua mengeluarkan kata-kata seperti di atas. Kitanya yang geli dan takut dengan ular, tetapi anak kita yang terbebani dengan ketakutan kita. Pergi ke kebun binatang atau ke tempat ramah satwa yang didesain ramah anak adalah cara kita mengenalkan satwa kepada anak-anak.

Anak-anak adalah kertas putih, kitalah yang mencoretnya. 

Siang ini kita pergi ke Bhumi Merapi, sebuah tempat wisata yang masih tergolong baru di kawasan Jogja Utara. Di objek wisata yang ramah anak ini, anak-anak dikenalkan dengan aneka satwa yang bisa dipegang, diberi makan, diberi minum, dan bisa berfoto bersama. Objek wisata ini menggunakan media satwa yang sudah didesain ramah pengunjung, tak terkecuali ular. Satwa ramah anak yang ada di sini, diantaranya : kelinci, ikan, ular, kambing, kuda, dan domba. Semuanya memberikan sensasi yang berbeda di setiap anak yang berkunjung ke masing-masing kandangnya.

Saya termasuk orang dewasa yang takut pada ular, rasa geli bercampur takut yang membuat saya tidak punya nyali untuk mengelus ular yang sebenarnya ramah dan aman untuk dipegang tersebut. Berbeda dengan jagoan kecil saya, Piki dengan percaya dirinya bilang "tidak takut ular" dan diam menempatkan diri saat pawang ular mengalungkan ular ke leher Piki. Bangga! Itulah yang terpikirkan oleh saya karena berhasil membuang pikiran untuk meracuni jagoan kecilku untuk takut juga dengan ular.

Ular yang dikalungkan ke leher jagoan kecilku, adalah sebuah prestasi untuk jagoan kecilku bersahabat dengan ular, sekaligus apresiasi ke diri saya sendiri karena tidak melarang jagoan kecilku mengenal satwa ular tersebut. 

Ayuk, ajak buah hati kita belajar banyak yang mengasah kecerdasan emosinal dari lingkungannya, supaya dia menjadi sosok yang pemberani dan pembelajar sejati!

3 komentar:

  1. Noted Mak Maaand~~
    Jadi, lanjut jalan-jalan ya ini kesimpulannya? hihihi

    BalasHapus
  2. Berani banget Piki sama Ular. Hiii.. Tante aja takut banget lohhh.. Tiap lewat kandang ular, langsung mlipir jauh-jauh.

    BalasHapus
  3. Jadi mamaku sangat sangat takut dan anti sama ular, bahkan cuma gambar atau muncul di tv beliau bisa sampai histeris. Sementara mamikku (ayah) termasuk yang fearless dan sangat berani apapun. Aku nurun mamikku yang berani sama ular atau reptil atau binatang buas apa aja, sayangnya aku kok takut kucing. Aneh kan, Manda? x)))

    BalasHapus