IBX583577287E51C

Sabtu, 10 Oktober 2015

Sebuah Catatan Universitas Kehidupan : Sakit Hati

Punya blog ini tapi nggak sering di update, rasanya sayang banget. Padahal bisa dipakai sebagai blog gado-gado yang manda temui di Universitas Kehidupan. Bahan belajar yang sekaligus ujian kalau nyemplung di Universitas Kehidupan. Blog ini bisa jadi ajang nyimpan pelajaran biar sewaktu-waktu bisa dibuka dan menjadi bahan belajar untuk siapapun yang membacanya.

Siapa yang belum pernah mengalami sakit hati?

Sakit Hati itu Menyenangkan.




Wah bikin heading tiba-tiba tentang sakit hati yang menyenangkan. wkwkwkwkwk. Sekali-sekali boleh dong menyebut rasa "deg" di dalam hati dengan sebutan sakit hati.

Kok bisa sakit hati menyenangkan?

Yup, dari sakit hati kita belajar untuk tidak menyakiti hati orang lain seperti yang kita rasakan.

Dan, percayalah. 

Sakit hati itu hanya sesaat. Sesaat saat kita mengalaminya saja.

 

Membawa sakit hati menjadi hal menyenangkan adalah dengan cara INTROPEKSI DIRI. 


Kalau kita dibuat sakit hati karena ketidakprofesionalan kita menurut orang lain, ya berusaha menjadi seprofesional sesuai kemampuan kita. 

Kalau kita dibuat sakit hati karena ketidaksempurnaan kita menurut kacamata orang lain, ya kita berusaha sekeras kita bisa perfect seperti yang dimau oleh orang yang kita ajak bicara.

Obat sakit hati adalah bersyukur.


Kalau sudah berusaha sekeras mungkin dan setiap bertemu dengan orang itu masih juga dibuat sakit hati, sudahlah obat hatinya bukan dengan membuat hati kita lebih sakit atau memperburuk hari kita dengan sisa-sisa sakit hati. Obatnya hanyalah bersyukur, dikasih ujian ketemu dengan makhluk yang selalu aja bikin terapi hati.

Beneran, saya mengalaminya 2 bulan ini ketemu dengan orang yang "sangat perfect" dan tidak bisa berkomunikasi dua arah di bidang keilmuan yang membutuhkan kolaborasi dan komunikasi sebetulnya. Dan obat hatinya saya ya bersyukur itu. Karena orang yang dengan senang hati membuat orang lain sakit hati, sejatinya hidupnya gelisah dan jauh dari kebahagiaan. Lebih bersyukur kita kan? Makanya jangan sakit hati kelamaan ya..



Oh iya, seminggu sekali bertemu selama dua bulan, ternyata oh ternyata nyesek lho. *kan saya juga manusia* Tapiii setelah tahu TIPS JITU menghadapi orang sulit, akhirnya menikmati saat-saat ketemu dengan "tidak banyak bicara" dan "mengangguk".

Yes, I did it!

"Melunakkan orang sulit itu butuh terapi hati"

1 komentar:

  1. Dan saat sy lulus, saya kangen ketemu org perfeksionis itu...

    BalasHapus