Pamer Foto Makanan, Jangan Julid Ketika Berinteraksi di Media Sosial


Halo sahabat Manda, bagaimana puasanya di hari ke sepuluh ini. Semoga ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain di bulan Ramadan tidak ternodai oleh pikiran atau sudut pandang kita tidak dipenuhi kesoktauan yang men-judge tindakan orang lain tidak benar karena tidak sepaham dengan kita. Naudzubillah min dzaalik. Semoga kita dijauhkan dari pikiran menilai buruk orang lain yang sesungguhnya justru mengurangi pahala kita.

Minimnya Toleransi Ketika Bermedia Sosial

Saya sebetulnya tidak peduli dan tidak mau ambil pusing dengan banyaknya komentar yang sesunguhnya tidak enak didengar telinga, ketika seseorang menilai foto makanan yang beredar di dunia maya/status WA atau media apapun, dikatakan sebagai "pamer foto di tengah kondisi pandemi Corona seperti ini", ada yang lugas, tegas dan pedas menyudutkan orang yang pamer foto di sebuah titik terendah yang menurut pemahamannya salah. Bahkan dengan alasan mengingatkan, tak sungkan melakukan DM atau mengirim pesan mengkritik dan mengomentari apa yang kita posting tentang makanan yang tanpa ba bi bu menanyakan alasannya.

Eh lupa, orang yang sudah minim toleransi tidak akan menghargai alasan orang lain. Isi otaknya hanya yang dianggap benar oleh dirinya sendiri, dan orang lain selalu salah. Naudzubillah min dzaalik.

Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat kami kepada orang-orang yang telah berbaik hati mengingatkan tentang "pamer foto makanan" dengan mengirimkan pesan pribadi maupun menyindir di timeline media sosialnya, mohon untuk juga mengambil cermin untuk apa yang sudah dilakukan.

Menunjuk dengan satu jari, artinya mengarahkan 4 jari lain ke dirinya. Hemat saya, orang yang mengira atau lebih tepatnya suudzon pada orang yang memfoto makanan dengan niatan pamer, sejatinya di dalam otak dan hatinya, JUSTRU sedang menunjukkan siapa dirinya. Jadi, selama ini motif yang terselubung di semua postingannya adalah PAMER.

See! Orang yang mengatakan bahwa pamer foto makanan adalah bla bla bla, ternyata isi media sosialnya adalah pamer anak, pamer happy family, pamer kemesraan, pamer jalan-jalan, pamer rumah, pamer kesuksesan, pamer kecantikan, pamer kemampuan daya beli, pamer kosmetik, pamer parenting, pamer ahli ibadah, pamer belanja bulanan, pamer beli tanah, pamer kekayaan, pamer pekerjaan, pamer menjadi donatur, pamer menjadi orang alim, naudzubillah min dzaalik. Sesungguhnya, manusia adalah tempat salah dan lupa, tidak ada sempurna di dalam diri manusia, selalu ada celah untuk salah dan khilaf. Oleh karenanya, istighfarlah sepanjang waktu di setiap nafas kita.

Julid di Media Sosial

Perlu dipahami bahwa media sosial atau lebih luasnya status pribadi adalah rumah maya pemiliknya. Apapun yang di-upload di media sosial atau status pribadi adalah postingan pribadi di rumah pemiliknya. Apa yang diunggah tentu punya banyak alasan. Dan alasan itu tidak perlu dipahami, tidak perlu semua orang tahu, cukup gunakan tombol untuk MUTE atau UNFOLLOW jika tidak menyukai apa yang diposting oleh pemilik rumah maya.

Kata julit atau julid dipopulerkan oleh artis Syahrini. Julid berasal dari bahasa Sunda yaitu Binjulid yang artinya iri, dengki, dan sikap kekanak-kanakan dalam menanggapi sesuatu. Julid = Judes Lidah, bisa jadi kan ya? Karena julid itu berakibat pada nyinyir.


Ada Alasan yang Melatarbelakangi Setiap Tindakan

Menghindari perdebatan tidak penting di timeline seseorang adalah cara dewasa bermedia sosial. Cukup membaca dan tahu isi otak si penulis komentar di media sosial, kita akan tahu hal yang disukainya, hal yang sedang dipikirkannya (Seperti Facebook selalu menanyakan, "Apa yang sedang Anda pikirkan?), bagaimana situasi hatinya, apa aktivitasnya, dan beberapa hal yang pribadi yang kita bisa tahu tanpa banyak bertanya. 

Sebelum men-judge seseorang di media sosial sebaiknya kita berkenalan dengan banyak karakter manusia. Setiap manusia itu unik dan istimewa. Setiap orang punya preferensi dan prioritas dalam hidupnya. Setiap manusia itu tidak sama satu dengan yang lain. Setiap manusia itu beraneka ragam. Jangan memaksakan kondisi kita untuk diterima sama dengan kondisi orang lain, baik itu dalam keadaan yang baik ataupun dalam keadaan yang tidak baik. Semua sudah ada porsinya sesuai pengalaman hidup masing-masing. Tugas kita di media sosial adalah mengabarkan hal positif dan hal baik, menghormati seseorang yang berbeda dengan kita dan mengambil pelajaran baik dari setiap postingan seseorang yang menjadi teman kita di media sosial.

Saya sendiri mempunyai alasan untuk meng-upload makanan karena pekerjaan sebagai content creator untuk channel pribadi saya di Youtube : http://www.youtube.com/primastutisatrianto dan tentunya mempunyai itikad baik untuk menempatkan rasa yang sama saat saya dibantu oleh teman-teman lain yang meng-upload resepnya untuk bisa saya recook dan praktekkan di #DapurManda. Perjalanan hidupku menyukai dunia masak, dimulai tahun 2009, di saat makanan di rantau tidak ada yang bisa dikecap oleh indera perasa. Memaksa diri memasak dengan kemampuan seadanya. Youtube belum se-booming sekarang, dibantu dengan kawan dari Indonesia, mulai bisa belajar memasak menu yang mudah tapi enak di lidah dengan bahan yang seadanya. Pulang ke Indonesia, jiwa kuliner kembali bergejolak, jarang memasak dan lebih suka beli. Dan tibalah saat Corona menyerang kenyamanan di bumi ini, ketika banyak hal perlu diwaspadai, kami memilih untuk membeli bahan mentah dan mengolahnya sendiri. Ternyata! Saya pelupa soal resep, untuk masakan mama yang sederhana pun, saya kembali bertanya bahan dan cara memasaknya. Sejak itu, saya mengaktifkan kembali channel Youtube untuk menyimpan cara memasak masakan yang kami suka dan enak. 

Harapannya, banyak orang bisa terbantu untuk bisa memasak yang mudah dan enak. Bagian untuk mempromosikan resep makanan adalah mengunggah foto makanan yang resepnya ada di link. Demikian cara foto makanan bekerja bagi content creator. Bisa dibayangkan ketika alasan seperti di atas tidak diketahui oleh orang yang men-judge pamer foto makanan, yang ada komentar pedasnya menyakiti hati kami yang meniatkan cara berbagi kami sebagai ibadah tapi dinyinyir oleh mereka yang membenarkan isi otak dan pemikirannya.

Justru malah niatan untuk pamer foto makanan seperti yang dipikirkan sebagian kecil orang dengan mengatakan tidak bertoleransi dengan orang yang kesulitan makan, hampir tidak ada niatan untuk pamer foto. Bahkan ada pesan yang masuk ke saya bahwa pamer foto makanan di status WA untuk membuktikan saya pintar memasak dan butuh pengakuan. Sungguh menyakitkan sekali pikiran picik orang yang julid. Men-judge tanpa klarifikasi dan mengirim pesan menyakitkan sungguh meninggalkan bekas luka bagi orang lain. Tak cukup dikatakan tidak bertoleransi, ingin dipuji karena pintar memasak, masih dilanjutkan dengan kata-kata tidak semua orang sekaya orang yang pamer foto sehingga bisa makan enak. Wow! Netizen JULID sungguh nyata! Menyerang orang lain yang tanpa dasar, mencari alasan pembenaran yang dianggapnya benar untuknya dan salah untuk orang lain. Wow! Naudzubillah min dzaalik.

Saya iseng menanyai beberapa teman untuk mengetahui alasan sebenarnya dibalik pandangan "pamer" yang digulirkan oleh segelintir orang hanya karena mempunyai pandangan yang berbeda akan sesuatu yang bukan menjadi hobinya. Dan ternyata, alasan mereka beragam tentang alasan mengunggah foto makanannya. Untuk semua alasan yang kutahu tidak berdosa dan tidak salah dari kacamata saya, saya menghargai dan menghormatinya. Seperti halnya, saya menghormati postingan teman-teman akan kebahagiaan, kesuksesan dan cerita baik yang membuat hari-hari saya lebih positif karena dikelilingi oleh orang-orang yang positif dan berbagi hal baik melalui media sosial.

Terima kasih ya sudah membaca postinganku tentang sudut pandang pamer foto makanan dari kacamataku. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk bisa semakin membuka pintu toleransi akan postingan orang lain di media sosialnya. Rumah maya seseorang seperti halnya rumah pribadinya. Siapa yang ingin masuk harus ketuk pintu dan ketika sudah melihat, hargailah si pemilik rumahnya. Jangan jadi tamu yang nyinyir ketika melihat isi rumah dari orang lain. Semoga kita semua selalu bisa belajar dari orang lain, memahami bahwa kita adalah manusia dengan segala keterbatasannya. Tidak ada di dunia ini yang sempurna. Biarlah amalan baik kita hanya Alloh dan malaikatNya yang mencatat. Tidak perlu pengakuan orang lain atau hanya supaya dipandang oleh manusia lain. Tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Lillahi ta'ala.

Saya yang nggak punya referensi resep untuk dimasak setiap hari, merasa terbantu  dengan teman-teman yang berbagi ide memasaknya. Semoga menjadi pahala bagi teman-teman yang membagikan ilmu dan resepnya, terima kasih berkenan membagikan. Karena saya tahu rasanya memasak, memvideo, menulis resep dan memfotonya tidak mudah dan butuh waktu. Berbagilah dengan yang kita bisa dan kita punya, sisanya biarlah Alloh yang mencatatnya sebagai amalan. Selalu perbaiki niat, supaya dicatat sebagai amal ibadah. Aamiin. #DapurManda  #DiRumahAja  #CookingWithPassion

Mohon maaf lahir dan batin, selamat melanjutkan ibadah puasa dan semoga Alloh berkenan mencatat setiap amalan yang menjadi niatan kita. Aamiin. 


10 komentar

  1. Wow..segitunya sampe ngeDM? Padahal tergantung prespektif aja sih kayal gitu tu ya..

    BalasHapus
  2. Aku biasanya juga sering "pamer" masakan rumahan yg ku buat bersusah payah mba. Serius niatnya cuma untuk berbagi inspirasi masak apa hari ini. Krn ku juga sangat terbantu dgn postingan mantemans soal postingan masakan. Bisa jadi inspirasi buat ku ketika ku bingung mau masak apa. Eh malah aku disindir habis2an dan dicemahin ber SKS πŸ₯Ί agak kapok "pamer" masakan lg. Hiksss
    Tulisan mu mewakili isi hati ku mbaa 😘

    BalasHapus
  3. Yaelah, sempit banget sih sudut pandangnya orang orang itu. Lha kan terserah aja yang mau posting. Posting yang gak sopan aja banyak, noh itu aja kalau mau disemprot. Aku lho malah suka ada yang posting makanan ala-ala. Kalau gak suka ya tinggalin gitu aja. Ngapain ribet. Lagian dunia Maya segambreng manusia dari sejagat raya, mau dijulidin semua? Ya sana kalau sanggup, iyekaan. Yuk kita makan aja

    BalasHapus
  4. Ya ampun Manda, kok bisa-bisanya berkreasi lewat masakan dibilangnya pamer. Padahal masak kan bagian dari menghilangkan rasa bosan di kala pandemi. Stay semangat berkreasi Manda ��

    BalasHapus
  5. Sik sik sik... Aku ngguyu disiiik.. Hahahahaha.... Kok bisa seserius itu ya, tanggapan rangorang... Tapi Manda, pas Ramadan tahun lalu aja aku diblokir seseorang gara-gara posting foto makanan tatkala belum buka... Itu dosa katanya, sebabbikin orang tergida, sedangkaaannn..... Andai aku postingnya malam dan dia liatnya siang hari, sing salah dopooo.

    Ah, jangankan foto makanan yg bikin laper. Foto langit senjaku wae yo iso dadi masalah, kok. Pamer langit ciptaan Allah Yang Mahaindah, kenapa dipermasalahkan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal aku salah satu penikmat foto langit itu lho, mba Tien..

      Hapus
  6. setuju mba blogger panutanku, ga usah diambil pusing orang komen apa aja, abaikan hehehe. biasanya orang yang memang dasarnya negatif appaun yang dilihat didengar meski positif semuanya akan negatif terus, meski yang kita sebar itu hal positif, so ignore them, mari kita tetap sebar niat positif vibe

    BalasHapus
  7. Manda jujur aku juga enggak peduli apa komentar orang. Aku pernah kan nulis status di FB ada orang yang Dm ngatain aku ga peka sama keadaan. Jujur ya kalau mau peka harusnya sebelum pandemi, lagian apa salahnya upload foto makanan plus resep menurutku yang dilihat harusnya sisi poaitifnya jangan cuma mikir buruk itu pamer. Kalau kayak gitu apa gunanya sosial media buat berbagi thoh ada manfaatnya buat orang lain. Huft ada aja orang2 nyinyir

    BalasHapus
  8. Untuk hal ini suamiku memang pernah bilang ke aku supaya berhati-hati kalo upload-upload makanan di medsos. Kalo aku sih apa yang akan aku upload, lha wong aku ga suka bikin masakan, hehehe.. Mungkin maksudnya adalah untuk menjaga pro dan kontra tersebut. Dan aku ga nyangka kalo ternyata sampai ada yang njapri/nge-DM. Semangat terus berkreasi, Manda!

    BalasHapus
  9. wah aku hampir tiap hari post foto makanan, sebenarnya tujuan hanya ingin mengabadikan momen yang saya makan agar suatu hari bisa menjadi kenangan dan teringat mana makanan yang enak.. kalo di julid in, terima aja kan yang bayar bahan makanan saya bukan dia.. kecuali dia yang beliin, baru boleh komplain :P

    BalasHapus