Batasan Berbagi Cerita di Media Sosial


Media Sosial adalah rumah maya kita, ibarat rumah, mau didekorasi seperti apa, mau diisi interior seperti apa, mau dicat warna apa, biarkan si pemilik rumah saja. Sebagai tetangga atau teman di rumah mayanya, kita hanya boleh memberi like jika setuju, memberi komentar yang tidak menjatuhkan dan mempermalukan, serta bebas memilih tetap menjadi tetangga atau pindah rumah. Oleh karenanya, edukasi ke diri sendiri tentang bermedia sosial adalah ilmu yang harus dipelajari di universitas kehidupan saat sudah memutuskan bersinggungan dengan media sosial.

Halooo sahabat Manda, lama banget ya nggak bikin tulisan yang bau-baunya berbagi tentang jawaban dari banyak pertanyaan yang dirangkumkan menjadi satu tema di cerita kehidupan Manda. Masih penasaran, kok bisa Manda? Manda itu mama adinda, cieee, biar imyut dan masih kebawa zaman pacaran dulu dipanggilnya sayang-sayang, ye kan...

Tentang batasan berbagi cerita di social media.


Pertanyaan 1 : Apa sih media sosial buat Manda?


Media sosial buat saya adalah media untuk bersosialisasi. Media adalah ruang, jadi harapannya media sosial memberikan ruang untuk saya sebagai makhluk sosial. Definisi makhluk sosial adalah makhluk yang membutuhkan orang lain. Oleh karenanya, hubungan dalam ruang sosial ini haruslah melibatkan lebih dari 1 orang. Makanya, media sosial selalu ada istilah friend dan follower.


Sampai di sini baru sampai definisi media sosial. Kalau buat saya pribadi, media sosial lebih ke beberapa hal yang membantu saya mengingat dan mengetahui kabar dari teman-teman dalam satu circle. Dibilang, kepo ya enggak juga sih, karena kepo itu bisa berarti positif sebagai bentuk kita peduli terhadap kabar orang lain.


Namanya peduli, berarti ada perhatian. Kalau sudah tidak penting dalam hidup, ngapain masih dicari tahu kabarnya. Ya kan? Jadi, beruntunglah yang masih dikepo status media sosialnya, berarti masih dirindukan.

Yang akan saya tuliskan di tulisa ini bersifat opini saya pribadi ya, kalaupun tidak sesuai dengan Anda ya dimaklum saja. Membiasakan diri menghargai isi otak orang lain, terlebih ini saya tuliskan di rumah saya, jadi sangat privasi untuk saya. Kalau Anda yang membaca tidak setuju, tidak usah membaca (baca : berkunjung ke rumah maya) saya. Pun berlaku untuk seluruh media sosial yang saya miliki, media sosial bersifat pribadi. Walaupun di-share secara public, tetap saja sifatnya pribadi. Makanya, ketika akan men-share sebaiknya izin terlebih dahulu.


Beberapa peran media sosial untuk Manda :

  1. Circle pertemanan. Teman dari SD, SMP, SMA, kuliah, bekerja, tetangga, keluarga, mereka berada dalam circle yang terhubung melalui media sosial. Untuk beberapa yang dekat, interaksi dengan mereka di dunia maya cukup mengobati rindu dan tahu kabar masing-masing. Sekedar memberikan like dan komentar, adalah sebuah perhatian dan turut hadir dalam bahagianya. Tak lepas dari berita bahagia, media sosial juga memberikan info ter-update untuk berita duka. 
  2. Terkoneksi. Masih melanjutkan dari yang pertama. Media sosial membuat kita terkoneksi dan terhubung. Temannya dari teman, bisa dilacak dan bisa diketahui kabarnya. Alhamdulillah, teknologi membuat hubungan antar manusia, SEHARUSNYA berjalan lebih baik dan terhubung.
  3. Media penyimpanan atau storage. Media sosial buat Manda, lebih ke storage dalam keadaan yang kepepet. Menyimpan di media sosial memang resolusinya tidak sebagus jika dipindahkan dengan menggunakan flashdisk, tapi cukuplah bisa mensolusi jika storage penuh saat traveling.
  4. Ikut berbahagia dan mestakung. Banyak postingan menyenangkan di media sosial, itulah kenapa saya bertahan dengan media sosial yang isinya EPOS (energi positif). Timeline di media sosialku isinya teman-teman yang suka jalan-jalan, memberi informasi makan dan wisata, memberi informasi ilmu agama, memberi ilmu parenting dan family, berbagi resep dan kesehatan, serta prestasi-prestasi teman-teman yang membuat saya terus bersemangat berbagi kebaikan dan menjadi manfaat dalam hidup yang cuma mampir ini.
  5. Sarana belajar dari orang lain. Media sosial itu sarat banyak hal yang baik dan informatif. Sekali lagi, media sosial itu seperti dua sisi pedang. Tetap harus bisa memilah dan memilih yang sesuai kita. Melihat segala postingan yang bisa saja sesuai dengan pendapat kita, namun ada juga yang sangat bertentangan dan bahkan berseberangan. Belajar dari mana saja. Ketika sudah diambang batas ketidakcocokan karena berbeda pendapat, memang sebaiknya melipir saja dari yang perbedaannya sudah sangat jauh.
  6. Belajar tentang manusia. Wow wow nya universitas kehidupan itu jauh berbeda dari universitas manapun yang masuk melalui jalur tes. Isinya universitas kehidupan bukan saja siswa atau siswi yang kita kenal. Melainkan terhubung dengan banyak cara untuk meluaskan circle pertemanan yang aduhai beragamnya. Alhamdulillah, memaknai semua pelajaran yang terhampar di media sosial menjadikan saya terus belajar tentang manusia. Lebih mengenal dan mawas diri, serta intropeksi diri. Yang baik, diteladani, yang tidak sesuai dijadikan pelajaran. Demikian cara orang dewasa belajar.
  7. Berpenghasilan dari media sosial. Alhamdulillah, media sosial yang dikelola dengan baik dan terus belajar menjadi baik akan menjadi ladang penghasilan yang tidak diduga oleh orang tua zaman dulu yang tidak mengenal teknologi internet, terlebih media sosial. Banyak sekarang tok online bertebaran di media sosial FB dan instagram. Work at home yang mendedikasikan sepenuh waktunya untuk keluarga, tetapi tetap bisa berkarya sesuai passion dan berpenghasilan.

Baca juga : Seorang Perempuan Harus Bekerja, Kenapa?

Pertanyaan 2 : Apa saja media sosial tempat Manda berinteraksi?









Ditunggu ya yang mau folllow, like, komen dan subscribe. Terima kasih yaa..


Pertanyaan 3 : Batasan upload nya seperti apa?


Yeaay sampailah kita ke jawaban pertanyaan yang menjadi tema utama tulisan ini. Batasan upload bagi Manda dan keluarga, tentunya berbeda dengan batasan sahabat Manda yang lain. Kembali lagi, tentang prioritas, privacy dan preferensi. Setiap orang mempunyai batasan yang dikendalikan oleh dirinya sendiri berdasarkan pengalaman hidup yang pernah dilewatinya.

Meng-upload di facebook dan fanpage. Karena facebook adalah media yang umum dan bersifat publik, mungkin hal-hal yang tidak bersifat privacy banyak kubagikan di media ini. Tentang cerita yang kutuliskan juga kubagikan melalui media ini. Foto-foto umum seperti event dan pemandangan, saya upload juga di media ini. Hal yang menyenangkan di facebook adalah ada reminder setiap tahunnya sehingga sering membuat bahagia dan bersyukur. Kadang kita lupa bersyukur, bukan?

Meng-upload di instagram. Karena kita bisa mengetahui siapa yang menjadi teman kita dann karena instagram tidak seumum facebook, maka di instagram lebih banyak meng-upload hal yang bersifat lebih pribadi. Tentang aktivitas yang momennya bagus untuk dibuat caption dan disesuaikan dengan feednya. Yang bikin seneng ketika memanfaatkan media IG karena bisa berinteraksi dengan orang-orang yang dekat beserta melihat igStorynya sehingga serasa dekat untuk mengetahui kabarnya. Dan tampilan IG lebih menunjukkan ke foto-foto yang indah dan enak, ketimbang tulisan-tulisan seperti di facebook dan fanpage.



Meng-upload di twitter. Hiks, yang paling bingung adalah ketika ditanyakan tentang batasan upload di twitter. Karena twitter lebih banyak dipakai dengan tujuan buzzer mendukung event yang sedang berlangsung. Selain itu, twitter lebih mengena untuk urusan komplain terhadap sesuatu yang berhubungan dengan merchant dan kepentingan umum. Makanya, berterima kasih dengan twitter karena fast response dalam menyampaikan keluhan.

Meng-upload di youtube. Youtube adalah channel yang menayangkan video-video yang kita bisa upload. Bagi sebagian orang yang memang concern untuk urusan konten, YouTube nya akan disesuaikan dengan niche. Tapi buat Manda, apapun hobi yang menarik Manda videokan, ya di-upload di channel Manda saja. Alhamdulillah, video-video itu menjadi pengingat gambar bergerak yang bisa dinikmati sendiri saat tahun berganti.


Pertanyaan 4 : Ada tips nyaman ber-media sosial ga?

Tips nyaman bermedia sosial ala Manda :

Melihat yang kita ingin lihat dan mendengar yang ingin kita dengar. Itu berlaku dalam media sosial. Berteman dan menjadi follower dengan teman yang sefrekuensi dalam hal hobi, pemikiran, keilmuan sehingga media sosial menjadi tempat menarik untuk berinteraksi dan meng-update informasi. Sekali lagi, tetap harus SARING sebelum sharing dan tetap harus dipilih dari hal-hal yang berbau SARA dan provokatif.

Nah, semoga tulisan ini menjadi salah satu artikel yang bisa membantu para kaum ABG millenials untuk memilah dan memilih untuk posting dan sharing di media sosial ya. Semoga media sosial menjadi media yang bisa bermanfaat bagi kita, menambah nilai kita sebagai manusia. Aamiin.

7 komentar

  1. Allhamdulillah berarti masih dirindukan sama Manda ehe ehe. Tapi, aku suka loh kalau Manda selalu ngasih perhatian ke banyak orang. Buat orang ga pedean kaya aku, ini semacam rangkulan maya yang bisa bikin hari menjadi lebih cerah gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masaaaaakk Ipeh ga pedean? waaahh kudu ketemu darat niii lalu kita wefie yaa Ipeh.. nanti PD bareng2 yaa..

      Hapus
  2. setujuuuu. akupun pilih2 kok utk berteman di medsos. kalo isi medsosnya terlalu banyak hal provokatif, memecah belah, sara, udh pasti aku block ato aku delete. Orang2 dengan kecendrungan begitu menular biasanya. lgs bikin bawaan jd mood emosi hahahah..

    sayang Youtube aku ga punya, krn ga jago juga ngedit2 video mba :D. kalo twitter udh mati suri wkwkwkwk. sampe lupa user dan paswordnya apa :D.

    pokoknya, medsos buatku sih utk sharing, utk reminder buat diriku sendiri juga krn aku pelupa. jd kdg semua pengalaman jalan2 dan kulinerku, aku tulis di sana utk tujuan pengingat jg kalo ntr mau ksana lagi :D. sukur2 kalo sempet aku tulisin di blog juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbaaaa, komenmuu kusukaaaa.. yeaaayy toossss ya kitaaa... Ayuk bikin channel yutub, ga harus kece banget videonya, yg penting atas bawah kiri kanan dan narasinya ada, menikmati gambar bergerak yg bersuara lebih asyik dibuka saat rindu, ternyata...

      Hapus
  3. Iya, medsos itu rumah kita, branding kita. Baiknya sih tidak posting sesuatu yang bisa menjatuhkan martabat diri sendiri. Juga, kalai komentar di post orang, baiknya jangan menggurui kecuali diminta. Jangan pula mencela. Yg ga sspaham, dibaca aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setujuu mba Susiiii, ternyata butuh belajar juga ya bermedia sosial, krn kebanyakan yg lewat masih blm paham bagaimana bertetangga di media sosial.

      Hapus
  4. Betul sekali isinya mba, love banget deh

    BalasHapus