IBX583577287E51C

Senin, 13 Juni 2016

Tips Nyaman Tinggal di Perumnas

Perumnas Tidak Selalu Identik dengan Sempit

Perumnas, Perumahan Nasional, sebuah kawasan hunian yang dulunya merupakan usaha pemerintah agar setiap keluarga bisa mempunyai rumah sendiri. Dan perumahan yang identik dengan perumnas biasanya dalam jumlah banyak, lingkungan perumahan yang luas dan berada di area yang strategis.

Tahun 2016 adalah saat istimewa bagi sahabat Perumnas yang ingin memiliki hunian pribadi. Tahun ini ada Program Sejuta Rumah yang dicanangkan pemerintah. Sejumlah perumahan murah bersubsidi di berbagai daerah di Indonesia siap dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Mensiasati Perumnas Sebagai Tempat Tinggal yang Nyaman

Rumah adalah barang besar yang tidak bisa dibeli dalam trolley di supermarket, ya kan? Oleh karenanya, memiliki rumah meskipun di perumnas adalah suatu yang membanggakan. Setidaknya kita sudah punya rumah. Biaya yang dikeluarkan untuk kontrak jauh lebih bisa dikurangi.

Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu disiati ketika memilih mempunyai rumah di perumnas ya. Berikut yang manda bisa bagi untuk sahabat manda.
  1. Sebelum membeli rumah perumnas, kenali lokasinya. Diantaranya, ada warung makan, dekat toko, dekat klinik, daerah yang berpenghuni, dan sudah ada memiliki tetangga.
  2. Kenal dengan pengembang dan membicarakan material yang dipakai sehingga rumah perumnas kualitasnya juga tidak murahan.
  3. Apabila terlanjur jadi, lakukan renovasi agar nyaman ditempati.
  4. Tips  rumah manda yang mendapat rumah perumnas untuk ditinggali. Sebelum ditempati, kami merenovasi agar rumah perumnas blong-blongan, sehingga memungkinkan mengadakan acara di rumah. Terlalu banyak sekat permanen membuat rumah terlihat sempit. Bersyukur rumah kami berada di hook sehingga ada tambahan tanah yang masih bisa dibangun kedepannya.
  5. Tinggal di perumnas, suka dengan silaturahminya yang masih berkekeluargaan. Berbeda mungkin jika berada di perumahan elit yang memang privasi menjadi hal yang dipilih setiap penghuninya.

Masih ada anggapan bahwa rumah di perumnas tergolong rumah murah? Ah, menurut saya yang juga tinggal di perumnas. Kembali lagi ke alasan bahwa rumah tidak bisa dibeli dan masuk ke trolley, maka semurah harga apapun juga rumah adalah investasi. Ketika kita jeli melihat peluang lokasi, perumnas tidak mempunyai image rumah murahan. Apalagi harga rumah selalu naik setiap tahunnya. Jangan membeli rumah karena butuh rumah, sehingga dapatnya seadanya. 

Dan selalu ingat bahwa rumah adalah pulung, rumahlah yang nanti memilih si pemilik untuk memilikinya.

Mau tahu kelebihan tinggal perumnas?
  1. Perumnas biasanya proyek berjamaah, sehingga nantinya perumnas akan memiliki RT dan RW sendiri. Guyup rukun warga dan rukun tetangga terasa kental jika kita tinggal di perumnas. 
  2. Kegiatan arisan RT dan PKK RW pun masih bisa ikuti di lingkungan perumnas.
  3. Kegiatan bapak-bapak seperti rapat setiap tiga bulan sekali pun masih bisa kita jumpai.
  4. Dalam sebuah perumnas, pasti ada 1 masjid di dalamnya sehingga tidak mungkin tidak mendengar adzan kalau memilih rumah di perumnas.
  5. Rumah perumnas yang sudah direnovasi tanpa sekat, bisa juga dipakai acara di rumah lho. Jalan di perumnas juga sudah aspalan sehingga membuat kita nyaman tinggal di perumnas.
  6. Image perumnas yang tidak elite? Ah, masih mending tinggal di perumnas tapi rumah sendiri. Daripada di perumahan elit tetapi kontrak atau cicilannya bikin mencicil.

Yuk, hadirkan cinta di rumah yang menjadi tempat kita tinggal, agar menjadi baiti jannati, rumahku adalah sorgaku. Home Sweet Home ala kita.

home sweet home


8 komentar:

  1. elton20:18

    bersyukur hidup di perumahan, sangat terasa kehidupan bertetangganya..

    BalasHapus
  2. Perumahan saya juga termasuk perumnas jaman dulu.Warganya guyub rukun meski tinggal di kota besar

    BalasHapus
  3. Beli rumah Perumnas adalah solusi bagi yang ingin punya rumah namun dananya minim..

    BalasHapus
  4. cuma yang harus dihindarai itu bergosip ria saat ibu2 ngumpul di luar atau belanja sayur

    BalasHapus
  5. jadi inget dulu sekali, keluargaku itu penghuni pertama rumah di komplek perumnas. SEEEEPIIIIII. mana waktu itu uda smp, banyak kegiatan sampe malem. klo pulang ngeri bener soalnya rumahnya gelap semua.
    tapi serunya, sempat punya halaman belakang sejuta dolar karena tiap buka pintu belakang ada pemandangan gunung dan sawah yang hijau.

    20 tahun kemudian, pemandangan itu sudah jadi perumahan juga :))

    BalasHapus
  6. Perumnas sekarang banyak juga mba jadi pilihan. Apalagi harga tanah kan semakin mahal. Bisa jadi investasi :)

    BalasHapus
  7. Iya, budaya kekeluargaannya yang masih erat memang yang bikin betah sama perumnas. Belum lagi harga rumah yang tidak terlalu menohok.

    BalasHapus
  8. punya saya belum direnovasi, kak. Cepet rusaknya. Entah kenapa kayak selalu bangunnya gitu asal-asalan ya

    BalasHapus