IBX583577287E51C

Kamis, 11 Februari 2016

Bekerja atau Berpenghasilan ya?


Membahas yang itu-itu seakan tak ada habisnya, selalu ada pembenaran dan berujung ke sebuah rasa sensitivitas tingkat tinggi. No judging. Karena setiap keputusan sudah siap dengan konsekuensi.Hanya saja, tergelitik untuk menuliskan beberapa poin kenapa saya tetap mengusahakan untuk berpenghasilan. Versi setiap orang memandang definisi bekerja atau berpenghasilan sah-sah saja berbeda. Hanya berlaku sebuah hukum "if". 



Bekerja yang dalam tanda kutip tidak harus kantoran selama jam 8 sampai jam 9 malam. Bekerja yang tanda kutip tidak saklek harus meninggalkan rumah. Bekerja yang siapapun berhak memiliki definisi dan tingkat kesulitan sendiri dalam mengatur jam tubuh dan manajemen waktu.

Mereka, perempuan yang bekerja di luar rumah dan masih bisa proposional waktu untuk keluarga dan kerjaannya, patut diacungi jempol. Dan saya mengenal mereka dengan baik.

Alasan tidak bekerja bagi saya karena saya tidak suka mempunyai jam kerja. Saya tidak nyaman dengan aturan dan jadwal yang mengikat dan diikat. Bukan berarti hidup saya tidak teratur lho ya.. Saya menghargai TO DO LIST dan tentunya manajemen waktu yang secara FLEKSIBLE saya tentukan sendiri mengikuti jadwal suami, keluarga, urusan rumah tangga dan pekerjaan yang harus saya selesaikan.

Yap, pada akhirnya, definisi bekerja buat saya adalah working @home mom.


Kini bicara tentang penghasilan. Of course, orang bekerja pasti akan mempunyai penghasilan. Tidak usah muluk-muluk dengan gaji, tunjangan dan jenjang karir. Baca saja penghasilan sebagai pendapatan. Setuju banget bahwa perempuan baik itu single maupun double harus berpenghasilan.Kenapa harus?



  1. Fine, kebutuhan rumah tangga dan seisinya sudah dicukupi oleh suami. Challenge ke diri sendiri, apakah gerak tangan,  otak dan tubuh kita bisa menghasilkan sesuatu? Contoh sederhana: bungkusin snack dan titipin ke kantin sekolah.
  2. Zona nyaman. Ah suami berkelebihan dan lebih dari cukup. Baiklah, hidupmu bahagia sekali. Tapi apakah tidak terpikir pada suatu masa roda itu berputar, yang nyaman belum tentu selamanya. Dan saat tidak ada persiapan, yg nyaman itu jadi sebuah masalah besar ketika terjadi ketidaknyamanan.
  3. Buatku sudah cukup. Ya ya ya kebutuhan rumah tangga sudah aman. Beli baju, tas dan sepatu sudah pasti bisanya kapan aja. Cukup? Bagaimana dengan kedua orang tua dan mertua kita? Sudahkah kita mengajaknya turut serta dalam kebahagiaan kita? Coba tanya lagi ke diri sendiri, apakah orang tua kita bangga kalau senang-senang yang bayarin suami kita?
  4. Hidup di dunia nggak selamanya.  Sisi religi yang menjadikan kenapa kita perempuan harus berpenghasilan. Nggak usah deh berpikir tentang arisan RT dan RW dibayarin sama suami, pikirkan saja tentang sedekah kita. Masak iya sih, sedekah aja pakai uang suami? Jadi pahala suami dong.
Tidak usah memperdebatkan 4 hal yang saya tulis sebagai alasan saya kenapa seorang perempuan harus berpenghasilan. Setiap orang punya sejuta alasan dan sekaligus pembenaran untuk yang dilakukan dan diputuskan. Tapi jangan lupa, bahwa pengalaman hidup banyak orang adalah pelajaran kehidupan yang kita tidak perlu mengalaminya.



Alasan 1 sampai 4 punya saya juga memuat banyak celah untuk dibantah dan versi pembenaran sendiri-sendiri. Saya menuliskan untuk diri saya sendiri dan semoga generasi saya terinspirasi dengan apa yang saya tuliskan kenapa seorang perempuan harus berpenghasilan.

Love What You Do,
Do What You Love. 

24 komentar:

  1. jadi inget teman,anaknya 3..bangun jam 3 bikin kue buat dijual di pasar...lancar usahanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itulah kan mba,, kenapa kalau emak-emak mau berpenghasilan, tidak perlu dengan dalih tidak wajib bekerja.. hehehehe... suka ya dengan yang begituan.. *_*

      Hapus
  2. Setuju Manda. Yang penting berpenghasilan halal, walo prestise bekerja tetep didamba banyak orang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Prestise bekerja yang mari kita ciptakan meskipun karya kita anti-mainstream. Ya kan? *_*

      Hapus
    2. Hihi. Sayang ga semua oraaang mengerti bahwa bekerja bs dr rumah

      Hapus
    3. bekerja di luar rumah juga kalau saatnya ngreview atau cari postingan buat blog mak.. *_* hehehehehehe

      Hapus
  3. Suka poin ke empat, malah nggak kepikiran kalo sedekah dari suami ya yang dapet pahala ya suami ya. Bener.
    kalau saya pengen berpenghasilan karena pengen bisa mbantu orang tua dan sesekali ngasih ke adik2 Manda.,
    Nice share, thanks

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak prim, aku juga kepikirannya pas mak deg, sadar, mosok masukin kotak infaq duitnya dari suami, bener kan? *_*

      Hapus
  4. Yoii, aku juga prefer dgn penghasilan. Honestly, aku tak pernah pny obsesi soal karir, bukannya flat tapi mmg tak pernh terbersit utk memiliki jenjang karir, * ngeyel gak mau dibilang flat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. mak rie, toossss yaaa.. berpenghasilan bikin kita bisa senyum saat nerima penghasilan yang kita upayakan yaa... *_*

      Hapus
  5. Bekerja buatku bukan cuma mengejar materinya mak. Tapi juga aktualisasi diri. Setuju dengan semua point

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan poin itu membuat kita perempuan semakin istimewa ya mak... *_*

      Hapus
  6. setuju manda.. buatku perempuan tetap harus bisa "menghasilkan". Selain utk keempat hal yg km sebutin jg sbagai pembuktian & pengembangan diri. Yg jdi kegelisahanku skrg ini: berpenghasilan tetap atau tetap berpenghasilan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yeaaayy benerr bangett.. salah satunya aktualisasi diri bertemu kalian emak-emak blogger yang keceee dan menginspirasi.. *_*

      Hapus
  7. Setuju
    Sejak resign 3 tahun lalu
    Saya tetap berusaha untuk mempunya penghasilan pribadi meski dari rumah
    Gak ngoyo harus berapa jumlahnya, setidaknya punya uang pribadi yang benar-benar 'keringat' sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. tooosss ya mba arni, saya resign sudah 5 thn yll.. dan tetep ketagihan berpenghasilan..

      Hapus
  8. Berpenghsilan tanpa ninggalin urusan rumah dan anak2...cita cita banget
    Tapi... sekrang masih ngantor, ortu suka dg pekerjaan skrg... apalagi biar gg sia sia ortu nyekolahinnya... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. apapun pilihannya pasti kita tahu yang terbaik untuk kita bahwa yang terbaik itu kadang terselip bahagia untuk orang lain ya mba.. semangatt...

      Hapus
  9. penghasilan saya mudah-mudahan bisa didapat dari rumah, salah satunya dari blog misalnya,, amiinn

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiinn mba tetty, semoga berkah ya ngeblog kita.. *_*

      Hapus
  10. kalo saya mbak, pngen banget rasanya buka usaha sendri. sudah lelah bekerja yg hidup tergantung tanggal gajian...hehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga diberi kemudahan mewujudkan menjadi entrepreneur ya pak Andy.. aamiinn

      Hapus
  11. Kalau diperdebatkan bisa panjang dan ngga ada ujungnya mbba.. Setiap orang tergantung pilihan dan keinginnannya masing masing...

    Bahkan di budaya tertentu kalau wanitanya bekerja dianggap suaminya ngga sigap ...

    BalasHapus
  12. Saya mau berpenghasilan, caranya bisa macam-macam. Kalau dulu masih 8-5, dan sekarang thanks to internet memungkinkan untuk mempunyai penghasilan tanpa menjadi 8-5. Dan poin #2 adalah pemicu saya untuk tetap berpenghasilan sendiri sampe saat ini. Semoga diberi kekuatan, aamiin.

    Nice post dan salam kenal :D

    BalasHapus