IBX583577287E51C

Rabu, 13 September 2017

Ayah, Kau Cinta Pertama Dari Anak Perempuanmu


Menjadi anak perempuan darimu ayah, setelah 9 bulan 10 hari di dalam rahim ibu. Tangisku saat lahir, pasti membahagiakan kalian berdua. Kehadiranku pasti menjadi dambaan kalian berdua. Ya, ini aku, anak perempuanmu yang tidak kecil lagi, yang kini sudah menjadi seorang istri. 

Menjadi anak pertama perempuan.


Manda kecil, terlahir di bulan Februari dan berbintang Pisces. Flashback ke belakang, mama sering bercerita bahwa saat kandungan masuk ke bulan ke 8, mama kesulitan duduk karena badanku termasuk yang bongsor saat lahir. Papa dan mama tidak termasuk orang yang tinggi dan putih, maka percakapan ini pun terjadi.

Mama : "Besok anak kita pendek ya, pa?"

Papa : "Ya enggak, besok anak kita tingginya dari kita disambung."

Kalau waktu aku di kandungan bisa protes, wolaaaa kebayang kalau papa dan mama disambung berarti Manda kecil bisa setinggi apa, hehehe.


Mama : "Pa, anak kita dinamai siapa ya?"

Papa : "Karena kita sawo matang, anak kita dinamai irma (ireng manis)"

Mama : "Kita panggil, irma ya."

Ternyata oh ternyata, saya lahir dan kulitnya putih. Akhirnya dinamai suryani karena kulitnya seperti sang surya, hahahaha oh ternyata.


Hari-hariku terlewati, tahun demi tahun, mama adalah seorang ibu rumah tangga lulusan AKK (Akademi Kesejahteraan Keluarga). Untuk urusan rumah, mama memang ibu terbaik untuk kami, dua anak perempuannya. Lulusan AKK, setidaknya bisa memasak, menjahit, dan perawatan wajah. Itulah yang membuat kami disiapkan menjadi istri oleh ibu kami.

Papa, seseorang yang kukenal pekerja keras. Banyak hal yang kukagumi dengan cara papa menyayangi kami anak perempuannya. Papa paling ganteng di keluarga kami, dan kasih sayangnya kepada kami kedua anak perempuannya tidak berbeda. Mulai kecil, tidak hanya boneka dan tas, papa adalah laki-laki pertama di kehidupanku yang selalu datang membawa oleh-oleh dan kado.

Wajahku dan papa tidak jauh beda, alis yang tebal dan hampir bersambungan. Wajah yang mungil dengan model hidung yang seperti kami ini. Rambut lurus dan tipis. Papa adalah seseorang yang tegas, disiplin tetapi penuh perhatian dan kasih sayang. Banyak hal kita lewati bersama, terutama yang tidak jauh dari urusan penjemputan. Menjemput sekolah di hari sabtu (saat papa libur), menjemput kursus di malam hari saat papa tidak late duty, dan setiap kali bepergian karena hanya papa yang bisa setir mobil, hahahaha.

Papa mendedikasikan 28 tahun bekerja di sebuah bank swasta, bukan waktu yang singkat, bukan? Ya, kesetiaan itulah yang membuatku kagum dengan papa. Tak heran, di masa pensiunnya, ilmu perbankkan yang dimilikinya masih bisa menjadi manfaat untuk beberapa tempat. 

Mengenal Usaha dan Kerja Keras.

Bekerja di bank swasta, membuat papa sibuk. Kadang, bertemu hanya saat pagi sebelum sekolah, dan malam pun kadang-kadang papa pulang saat kami terlelap. Mama, beliau adalah cintanya papa. Mama selalu punya cara untuk menghadirkan papa di tenagh-tengah kami.

Tak jarang kami dibangunkan di tengah malam, saat papa lembur dan pulang membawa bakmi Diponegoro atau Pizza. Kami dibangunkan, hanya untuk menikmati oleh-oleh papa. Tapi itu sering, dan membuatku mengingat hal itu sebagai kenangan indah.

Kesibukan papa di kantor tidak membuatnya jauh dari kami. Di hari tertentu 2x seminggu, papa selalu mengusahakan pulang awal, karena menjemput kami kursus di bimbingan belajar. Sebisa papaku, kalaupun tidak bisa, mama tidak pernah mengeluh untuk menjemput kami. Mamaku wanita hebat dan menghebatkan kami sekeluarga. Terima kasih, mama papa.

Tulisan papaku rapi, beliau juga menuliskan agenda dengan rapi. Bahkan saat training English, papa membuat kliping yang kreatif menurutku. Meja kerja papa di rumah selalu rapi. Papa seorang pembelajar, waktunya habis di depan komputer. Itulah yang ternyata terekam dengan baik olehku.

Papa teman belajarku, itulah yang membuat kami nyaman belajar sampai larut malam, karena papa baru tidur biasanya jam 1 atau 2 pagi. Entah itu membuat modul training atau mebuat materi pelatihan atau menulis diktat waktu masih diperbantukan mengajar di D3 sebuah perguruan tinggi swasta sebagai praktisi perbankan. Kalau sekarang, saya termasuk wanita kalong (baca : kelelawar), itu karena kebiasaan yang sudah dimulai sejak kami SMA. 

Papa selalu mengajarkan pada kami untuk menyukai proses dan kerja keras. Karena setiap apa di dunia ini, asal itu terlihat, pasti bisa dipelajari. Itu nasihat papa yang selalu terkenang untukku.

Aku Tidak Ingin Punya Suami Pegawai Bank


Kelas 2 SMA, aku bertemu dengan dia. Meski cinta pertamaku sudah untuk papaku, tapi ternyata ada perasaan aneh yang berhasil mengaduk-aduk perasaanku. Senang ketika jumpa, deg-degan mau pilih baju untuk kursus, salah tingkah kalau ketemu di kelas, menanti sapanya di telepon rumah, dan seperti itulah rasanya ketika panah asmara menghujam jantungku. 


Laki-laki itu, 19 September 1998, telah berani mengatakannya kepadaku dan di depan kedua orang tuaku, akan menjadi sahabatku karena menyukaiku. hahahaha. Laki-laki pemberani yang sudah kuminta untuk tidak menjadi pegawai bank.

Penasaran ya? Kenapa?

Karena pengalaman menjadi anak dari pegawai bank membuatku tidak ingin menjadi mama yang hebat seperti di keluargaku. Pulang malam, tugas ke luar kota, sesaat dipindah cabang di kota lain untuk bisa naik jabatan, membawa pager (jaman dulu) ketika mendapat amanah ATM saat hari raya atau hari libur. Sebagai anak, kekecewaan menjadi anak pegawai bank membuatku tidak ingin punya suami pegawai bank, hahahaha. 

Bayangkan, sudah cantik mau ke sekaten, tetiba papa pakai pager mengabarkan kalau tidak jadi pergi, karena ada geseh uang sehingga harus menyelesaikan terlebih dahulu. Hiks ^_^

Sudah merencanakan mau pergi ke suatu tempat, eh tiba-tiba pager bunyi, info ATM ada kartu ketelan atau uang habis (terutama waktu hari raya) dan papa segera menuju ke TKP.

Tak jarang, papa tugas ke luar kota dan memang untuk mengembangkan karirnya, papa tidak bisa hanya stay di satu kota. Tapi, rasanya rumah nggak ada laki-lakinya, sungguh tidak aman perasaannya.

Alhamdulillah, Alloh yang Maha Baik mengirimkan jodoh padaku bukan pegawai bank. Ya, dia laki-laki pemberani yang dari 2 SMA sudah menjagaku. Menjadi sahabat mamaku. Dan tentunya, diterima baik oleh papa dan adek semata wayangku.

Terima kasih waktu, aku bersyukur memiliki keluarga ini. Alhamdulillah.



Tulisan ini dalam rangka Collaborative Blogging KEB grup Raisa seperti pada tulisan Mak Farida di web KEB dengan judul Ayah, I Need You.

Tulisan lain dengan tema Ayah bisa dijumpai dari tulisan-tulisan sebagai berikut :

  1. Ery di http://www.emaronie.com/2017/09/semoga-istiqomah-nak.html?m=1
  2. Gifta di http://aftertwentyseven.com/index.php/2017/09/13/the-daddy-issues/
  3. Merida Merry di http://www.meirida.my.id/2017/09/ketika-anak-takut-seperti-ayahnya.html?m=1
  4. Indira di http://www.diraindi.com/2017/09/pentingnya-anak-playdate-dengan-ayah.html
  5. Winarni di http://inart.web.id/2017/09/cara-menjadi-ayah-asi-yang-hebat/

17 komentar:

  1. Bner mak...emang ayah adlh first love anak, dlu jg klo sya d deketin cowok..si cowok harus d introgasi dlu m ayah, klo tdk cocok suruh prgi jauh2,, hhaa..

    BalasHapus
  2. Toss kita mbaak. Cinta pertamaku adalah bapak. Dari bapak aku tau pria yg baik itu seperti apa. Aah... Jadi kangen almarhum, nih. Alfatihah

    BalasHapus
  3. cieh.. so sweet deh sekarang jadi anak Papa dan istri Panda ya. laki-laki hebat semua=) lalu inget baper soal Engku Emran =D

    BalasHapus
  4. Waktu SD aku berharap punya pasangan yang bau tangannya kayak bau tangan bapakku. haha, jadi bau tangan bapakku itu khas banget mbak dan aku suka. Selain itu bapak itu serba bisa, nggak perlu panggil tukang kalau ada yang rusak.

    BalasHapus
  5. Papa... kalo sudah nikah gini, tiap anak perempuan pasti rindu berdua sana papanya :)

    BalasHapus
  6. Baper baca istilah pager, jadi kangen zaman SAMA pake pager :)

    BalasHapus
  7. Waah. Pasti ubek2 koleksi foto lama dl nih. Hihi. I love my papa too..

    BalasHapus
  8. Waahh...manda,kok sehati, aku baru mau posting soal bapak juga niiihhh.

    BalasHapus
  9. Aaaaaaa jadi kangen bapak
    Lelaki pertama yang dikenal oleh anak perempuannya. Lelaki pertama yang jadi teladan kesederhanaan dan ketegasan
    Pengen mudik dan peluk bapak deh

    BalasHapus
  10. Hehe....selalu ada cerita dibalik nama ^^
    Masya Allah,Baarokallah mandaaaa....

    BalasHapus
  11. Ah.. Jadi kangen sama Papiku. Sampai sekarang Papiku masih selalu perhatian dan dekat banget sama cucunya.
    Bersyukurlah kita yang masih punya Ayah ya mak Ima. Selalu sayangi dia, semoga selalu diberi kesehatan sama Allah. Aamiiin 🙏

    BalasHapus
  12. Biasanya, sadar atau tidak sadar, ada karakteristik dari papa yang ada di pasangan. Dan kadang kadang itu jadi suatu daya tarik. Tapi memang ayah akan menjadi cinta pertama dan benchmark utama seorang anak perempuan ya.

    BalasHapus
  13. Love Papiiii😍 sebentar lagi merantau lagi, harus sering-sering ngobrol sama Papi saya nich Mbak Ima

    BalasHapus
  14. Love Papiiii😍 sebentar lagi merantau lagi, harus sering-sering ngobrol sama Papi saya nich Mbak Ima

    BalasHapus
  15. Love Papiiii😍 sebentar lagi merantau lagi, harus sering-sering ngobrol sama Papi saya nich Mbak Ima

    BalasHapus
  16. Samaa..anak pertama perempuan :D

    Oleh oleh dari Papa selalu istimewa ya, walau cuma permen (dulu sering dikasih mr sarmento)
    Yang penting kasih sayang dan perhatiannya

    BalasHapus
  17. Hahaha..mbak Irma, jadinya mbak Ima :D, semoga papah selalu sehat yaa Manda.

    BalasHapus