IBX583577287E51C

Sabtu, 25 Februari 2017

Sehari Semalam Berwisata dan Kulineran di Kota Solo


Jalan-jalan manda kali ini akan berwisata dan sekaligus kulineran di kota Solo dan sekitarnya. Kota yang sejak jaman dahulu terkenal dengan kulinernya yang miroso. Penasaran untuk menghabiskan sehari semalam menikmati yang khas di kota Solo. Perjalanan dari kota Yogyakarta memakan waktu kurang lebih dua jam saat arus lalu lintas lancar. Seperti biasa, meskipun perjalanan wisata ini hanya manda dan panda, tetap kami membuat agenda perjalanan. Tujuan kami pertama kali adalah berwisata ke Candi Cetho di daerah Karanganyar. Lalu setelah check-in, kami akan menikmati nasi liwet khas Solo di Wongso Lemu. Keesokan paginya sarapan tenkleng yang fenomenal sebagai masakan khas Solo, tak lupa membeli cemilan serabi Notosuman dan berwisata sebentar ke Museum Batik di Kota Solo.

Saat membuat rencana perjalanan, yang terpenting bagi manda adalah menentukan hotel yang nyaman untuk beristirahat saat acara tamasya. Kemudahan online membuat proses booking pun bisa dengan mudah dilakukan. Bahkan informasi tentang standar kenyamanan bisa dilihat dari review dan rekomendasi tamu yang pernah menginap. Wolaaa, kamar nyaman di Solo berhasil Manda dapatkan dari Airy Rooms


Menikmati Suasana Bali di Timur Kota Solo, Karanganyar


Melihat foto di atas, tentunya sahabat manda membayangkan bahwa kami sedang di Bali ya? Dari judulnya kan kami sedang berwisata di kota Solo, Jawa Tengah. Ternyata, Karanganyar yang berada di timur kota Solo menawarkan banyak objek wisata menarik, selain ndoro Donker. Perjalanan dari Solo menuju Karanganyar kurang lebih 1,5 jam dan jika ingin ke Candi Cetho disarankan untuk melakukannya pagi hari, sebelum kabut menyelimuti medan curam yang akan dilalui untuk sampai di candi Cetho.


Memasuki kampung di kawasan candi Cetho, kita seperti memasuki kampung Bali. Dimana bangunan gapura di pintu masuk tiap rumahnya seperti khas Bali. Candi Cetho sampai saat ini masih dipergunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu. Candi Cetho yang berada di ketinggian 1500 meter merupakan pos awal dari jalur pendakian menuju gunung Lawu. Untuk sampai ke puncak candi Cetho, kita akan melewati banyak anak tangga dan melewati gapura-gapura kecil dengan kabut yang pukul 11 waktu itu sudah mulai menyelimuti kawasan candi Cetho. Sungguh menarik, seperti berada di atas awan.

Melihat foto-foto di atas, bisa dibayangkan dinginnya berada di candi Cetho kalau malam hari ya. Setelah puas berfoto-foto ria, kami melanjutkan perjalanan kembali ke kota Solo dan tidak lupa mampir menyruput teh asli dari kebun teh kemuning yang terhampar seperti bukit Teletubbies di daerah yang bernama Kemuning.



Tamasya atau piknik di tempat-tempat baru yang luar biasa mampu me-refresh pikiran dan membuat mood menjadi baik. Bagaimana tidak? Hamparan pemandangan alami yang berwarna hijau dan dinginnya kabut yang mendinginkan kepala, dengan sekejap mampu menghilangkan penat dari rutinitas keseharian yang menjebak. Itulah kenapa piknik atau tamasya itu penting.

Sesampainya di kota Solo, hari sudah sore dan kami memutuskan untuk check-in dan beristirahat sebentar. Hal yang penting dipikirkan saat melakukan online booking adalah ekspektasi kamar yang dipesan dengan kamar yang tersedia saat check-in. Ternyata, memesan melalui www.airyrooms.com membuat manda ketagihan. Ekspektasi harga dan kenyamanan kamarnya sangat pas, bahkan kenyamanan yang diperoleh melebihi dari harga yang dibayarkan.





Kuliner Malam Hari di Kota Solo, Nasi Liwet

Selepas maghrib, kami mulai hunting kuliner Solo di daerah Keprabon. Ya benar, tujuan kami ke nasi liwet. Bagi sahabat manda yang belum bisa membayangkan nasi liwet, berikut ya foto dari TKPnya.


Melihat foto di atas saja, saya masih menelan ludah dan membayangkan manis dan gurih berpadu sempurna dalam nasi liwet sebagai kuliner khas Solo ini. Kalau manda boleh mendeskripsikan nasi liwet ini, nasinya seperti nasi uduk Jakarta dan lauknya dimasak menyerupai telur dan ayam areh pelengkap gudeg di Yogyakarta. Lalu ada santan kental yang rasanya gurih serta sayur pepaya yang membuat nasi liwet ini begitu khas dan unik untuk segera disantap. Cara penyajiannya pun unik dan berciri khas, dengan menggunakan daun pisang atau pincuk. Minuman yang kami pesan, wedang teh dan wedang jeruk, rasanya manis khas orang Jawa.


Kembali ke hotel dengan hati senang dan perut kenyang. Tidur di hotel yang bersih dan nyaman untuk beristirahat salah satunya yang membuat liburan kita menjadi lebih menyenangkan. Yeay, Alhamdulillah.

Keesokan paginya, yeaaayyy selamat pagiiiii…..
Sengaja untuk tidak memesan sarapan di hotel, karena memang ingin berkuliner di kota Solo dengan menu andalan sarapannya. Coba tebak? Ya benar, tengkleng Solo.

 
Sarapan Pagi Tengkleng dan Sate Buntel
Lagi-lagi kota Solo memang menawarkan hal yang unik, karena kebanyakan di kota Jogja menikmati olahan kambing biasanya di malam hari. Kalau di kota Solo, olahan kambing dinikmati di pagi hari. Baiklah, mari kita pesan yang menjadi favorit di Bu Hj. Bejo ini. Manda memesan sate buntel dan panda memesan tengkleng. Tentunya, kami berbagi porsi untuk hal-hal yang berbau kambing ini, hihihi.


Sate buntel dan tengkleng pun sudah terhidang di atas meja. Saatnya kita memulai bersantap pagi dengan hidangan yang mengundang selera ini. Abaikan tentang kolesterol sejenak, karena kita sedang berada di rumah makan, sedangkan kolesterol adanya cuma di laboratorium. hehehehehehe.



Oleh-Oleh Khas Solo, Serabi Notosuman.
 

Selepas sarapan, kami menyempatkan untuk membeli cemilan sebagai oleh-oleh di serabi Notosuman. Jangan mengira bahwa kami maruk dan kurang kenyang setelah menyantap sarapan olahan kambing ya? Saking larisnya, kemarin siang kami mampir ke sini sudah kehabisan. Makanya menyengaja pagi ini sebelum berkeliling kota, kami membeli serabi Notosuman yang fenomenal ini. Rasa manis serabi yang bisa dipilih rasanya, mau original atau coklat, membuat rindu akan Solo dan kulinernya.

Dan bukan manda kalau tidak menyemil satu buah untuk keperluan fotografi, hehehehe.

Museum Batik Danar Hadi

Setelah check-out dari hotel dan kebetulan hari masih terang di kota Solo. Melewati jalan Slamet Riyadi, tergoda untuk berkunjung sejenak di museum batik Danar Hadi. Didalamnya terdapat koleksi-koleksi batik yang dipakai raja dan ratu di kraton Surakarta, Mangkunegaran maupun Yogyakarta. Serta beberapa koleksi apik yang berasal dari beberapa daerah di dalam negeri dan luar negeri. Sejarah perkembangan batik yang diceritakan dengan fasih oleh pemandu yang disiapkan saat kita masuk ke museum batik tersebut. Harga tiket masuk ke museum ini adalah 15,000 untuk pelajar dan 35,000 untuk umum.

Setelah berkeliling di museum yang cukup luas dan nyaman karena ada pendingin udara yang diperhatikan suhunya demi menjaga kain batik  yang usianya sudah puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Kami keluar dari ruang pameran satu, dan diperkenalkan dengan proses membatik yang sedang dilakukan oleh pembatik. Di sinilah, kita diperbolehkan untuk mengambil gambar, seperti pose kita sedang membatik.


Proses kesabaran dan ketekunan sangat diperlukan saat kita membatik.

Ditutup dengan menikmati batik-batik cantik di museum batik Danar Hadi, kami pun mengakhiri liburan akhir pekan kami di kota Solo. Benar-benar, sehari semalam yang menyenangkan di kota Solo yang meninggalkan banyak kenangan, terutama kulinernya yang akan membuat kami kembali lagi untuk menyantapnya.
Selamat tamasya!

10 komentar:

  1. Pengen ke Ndoro Dongker. Cuma baca cerita2nya aj nih.

    BalasHapus
  2. kok aku enggak diajaakk

    BalasHapus
  3. Wiii honimun terus. AKu jadi inget waktu Asean Blogger. Pengin nasi liwet tapi teman2 lebih milih nongkrong di cafe. Jadi malem2 aku mbecak sendiri kesana, trus pak becaknya aku traktir sekalian daripada nunggu aku selesai makan. Jadi di Solo aku ngedate dg tukang becak wkwwkwkkk

    BalasHapus
  4. Salah satu kota yg harus dikunjungin

    BalasHapus
  5. Kulineran teyuuuuss, di Solo pilihan makan banyak ya Manda, pengen ke Cetho belum kesampaian nih.

    BalasHapus
  6. Beberapa kali berkunjung ke Solo, tapi belum pernah ke Candi Cetho. Pemandangannya indah sekali ya

    BalasHapus
  7. waah akupun ke nasi liwet dan sate kmabing bu bejo jg waktu ke solo. blom ke suarbi notosuman sih, soale yg ini banyak di JKT dsk

    BalasHapus
  8. Belum pernah ke Solo :D
    Seru banget jalan2nya manda. Pensaran sama tengkleng. Belum pernah nyoba.

    BalasHapus
  9. Wow puas deh ya udah makan makanan khas SOlo trus liat batik khas sana jg :D

    BalasHapus
  10. Iihhh aku kangeeenn ama solo :D. Malu nih, suami org solo tp aku blm prnh ke candi cetho :p. Biasa kesana makan mulu :p.

    Awal2 k solo pas baru nikah aku diajak makan tengkleng, dan shocked kiat kambingnya bagian muka, giginya msh ada dunk.. Wkwkwkw.. Geliii. Tp oas udh coba aku sukaaa.. Apalagi sumsumnya.

    Malah g prnh lupa deh skr kalo k solo pasti tengkleng hrs dicoba :)

    BalasHapus