IBX583577287E51C

Sabtu, 26 November 2016

Paket Komplit Hidup di Universitas Kehidupan


Hidup di dunia ini hanya sekali. 
 Dan karena hanya sekali, siapa sih yang ingin hidupnya sia-sia?

Coba yuk direnungkan dua kalimat di atas, sederhananya tulisan di atas dalam memaknai hidup dan kehidupan. Paket komplit hidup di universitas kehidupan, demikian Manda memulai cerita motivasi hidup di tulisan kali ini. Cerita motivasi hidup yang tentunya pernah dialami oleh sebagian kita yang sudah merasakan hidup kurang lebih selama 30 tahun. Kalau baru 20 tahun sekian, ah masih kurang ditempanya, tenang saja masih ada waktu untuk belajar bagi yang masih 30 tahunan, karena yang usianya memasuki usia cantik pun masih terus belajar. Ya kan? Demikianlah hidup, dia begitu keras pada kita, sampai-sampai menyuruhnya belajar terus dan ujiannya selalu mendadak setiap harinya. 

Memang terdengar tidak fair, ketika hidup memaksa kita serba maklum dan sabar akan sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan rencana dan kehendak kita. Nah lho, emang siapa kita coba? Yang punya kehendak mutlak adalah Dia yang bersemayam di Arsy yang Maha Kuasa, Tuhan seru sekalian alam, yang menciptakan kita semua dan alam ini. Itulah yang disebut sebagai keyakinan. Karena dari keyakinan, kita belajar pasrah dan berserah diri.


Konteks keduanya adalah pasrah dan berserah diri, jangan mengartikannya menjadi sesuatu yang sepotong-potong ya, karena yang sepotong itu menjadi tidak genap dan lengkap. Jangan pula mengartikan segala sesuatu untuk membenarkan pendapat kita dan mengenakkan serta menyamankan diri kita. Itulah yang jadi salah ketika sesuatu dipahami secara dangkal oleh yang memahami. Tak heran kita menjadi mudah untuk terpecah belah.

Pasrah dan berserah diri, dua kata tersebut dilakukan setelah kita berencana dan berusaha. (Manda, 2016)

Tanpa adanya rencana (planning) dan berusaha dengan menyertakan doa dan kerja keras, seseorang tidak bisa menggunakan kata "pasrah" dan "berserah diri". Manda ingat sekali sebuah cerita yang pernah didengar kala mengikuti pengajian, dimana seorang pengembara meninggalkan untanya di halaman masjid. Lalu Rasululloh menegur, "kenapa tidak kau ikat untamu?". Pengembara itu menjawab, "sudah ada Alloh yang menjaganya". Lalu Rasululloh menyuruh pengembara itu untuk berikhtiar dengan mengikat untanya terlebih dahulu. 

Dari sepenggal cerita di atas, usaha atau ikhtiar harus kita lakukan terlebih dahulu. Masalah hasil capaian akhir adalah hak prerogatif Alloh yang menggariskan segala sesuatunya baik untuk setiap makhlukNya.

Lalu, seperti apa kerja keras? Saya sendiri juga masih belajar tentang arti kerja keras. Sedikit banyak, Universitas kehidupan menjadi tempat saya belajar akan banyak hal. Dan kerja keras itu tidak jauh dari kata proses. Orang yang berproses adalah orang yang bekerja keras. Karena sesungguhnya, orang bekerja keras itu bukanlah bekerja setengah mati dan mengharapkan hasil yang instant.

Sebagai contohnya, penjual kursi bambu yang mengitari jalan perumahan setiap hari. Mungkin kita tidak bisa menyalahkan usahanya yang sudah keras, memboncengkan kursi bambu dari tempatnya berasal ke daerah saya. Apa yang salah dengan rejeki dari kerja kerasnya?

Itulah yang lalu orang menyebutnya kerja keras saja tidak cukup, melainkan harus kerja cerdas. Kerja cerdas adalah kerja yang tidak cuma menggunakan otot, melainkan juga otak. Menjadi pribadi yang kreatif adalah salah satu cara kita bekerja cerdas. Memanfaatkan peluang juga salah satu contoh kita bekerja cerdas. Mau belajar dan update ilmu kebaruan tentang teknologi juga merupakan kerja cerdas. 

Dan setelah kita bekerja keras, bekerja cerdas, jangan lupa untuk bekerja ikhlas ya, yaitu menyerahkan hasil akhirnya kepada yang Maha Pemberi Rejeki. (Manda, 2016)


Universitas kehidupan dimana kita hidup memang tidak mengeluarkan buku diktat, dan kita pun tidak pernah kemana-mana membawa buku catatan, tetapi dimanapun kita setiap harinya pasti melalui ujian di universitas kehidupan, benar atau tidak?

Apa saja contoh ujian di universitas kehidupan?
  • Ujian sabar (masuk ranah psikologi)
  • Ujian manajemen waktu (masuk ranah ekonomi)
  • Ujian sehat (masuk ranah kedokteran)
  • Ujian kerjaan (masuk ke ranah multidisiplin ilmu)
  • Ujian keuangan (masuk ranah ekonomi dan matematika)
Dan ujian-ujian lain yang setiap hari kita alami dan membutuhkan kesabaran dalam melewatinya. Untuk rencana yang digariskanNya dengan indah uintuk setiap makhlukNya, itu yang harus kita percaya dan yakini. Memang tidak mudah, tetapi menjadi hambaNya yang menjadi lebih baik setiap harinya, tentu akan lebih menyamankan kita di universitas kehidupan milikNya.

Hidup memang sekedar mampir makan dan minum, tetapi jika kita bisa menyertakan orang lain untuk bersama-sama kita tersenyum saat makan dan minum, tentunya hidup kita menjadi bermakna. 

Bahagia itu bersyukur, jika akhir hari kita tutup dengan kesyukuran, itulah bahagia. Dan setiap orang bisa menciptakan kebahagiaannya sesuai versinya masing-masing. (Manda, 2016)

Selamat berakhir pekan dan jangan lupa bahagia ya!

6 komentar:

  1. Betul sekali Manda, kita memang harus bekerja keras dan bekerja cerdas, lebih sempurna jika bersyukur apapun yang terjadi.

    BalasHapus
  2. Setuju mba universitas kehidupan kalau bisa sabar dan belajar hadepi ujiannya maka nikmat lulusnya luar biasa :) nice reminder mba

    BalasHapus
  3. urip iku sabar subur alon alon klakon..mugi2 kita bis angejalaninya dengan baik dan berkah aamiin

    BalasHapus
  4. Ketika hidup kita bisa memberi manfaat kepada hidup orang lain, hidup terasa makin nikmat ya manda... Tks remindernya :)

    BalasHapus
  5. Kok ngepasi banget, aku lagi mikir gini..ngerasa pasrah sama ketentuan Allah, tapi Hei! Memang aku udah ikhtiar sekeras apa kok tau2 pasrah?

    Disitu aku merasa kudu berusaha lagi...

    BalasHapus
  6. Rencana hanya akan menjadi rencana kl kita g berusaha. Sama seperti yang saya alami saat ini masih berusaha terus dan menjalani ujian kehidupan.

    BalasHapus