IBX583577287E51C

Jumat, 03 Juni 2016

Bukan Hanya LSF yang Bertanggung Jawab

Judul di atas memang belum selesai,

Bukan Hanya LSF yang Bertanggung Jawab Menjaga Moral Anak Bangsa. #AyoSensorMandiri

Perlu digarisbawahi ya, bahwa tayangan yang kini jadi tuntunan, sedikit banyak telah mempengaruhi mental dan otak generasi penerus bangsa. Terlihat beberapa kasus yang marak saat ini, seperti perkosaan yang jelas mencolok sedang menjadi hotnews.

Menyedihkan.




Tak terasa, 100 tahun Sensor Film Indonesia yang sekarang mengusung tema utama "Masyarakat Sensor Mandiri Wujudkan Kepribadian Bangsa" merupakan spirit Lembaga Sensor Film Periode 2015-2019  dalam memanfaatkan momentum peringatan 100 tahun sensor film di Indonesia.

Lalu, apakah LSF sebagai Lembaga Sensor Film bertanggung jawab atas semua tayangan di televisi?
Tentunya, peran orang tua dalam keluarga sangat mengambil peran utama sekaligus peran yang penting untuk memberikan  DO dan DONT tayangan untuk seluruh keluarga.

Jaman sekarang akses hal-hal yang berbau pornografi, sangat mudah diakses dari gadget. Bahkan tanpa kita minta, iklan berbau pornografi di news feed Blackberry Messenger pun sering kita jumpai. Oleh karena itu budaya sensor mandiri haruslah membudaya di keluarga kita sebagai lingkup terkecil. Membiasakan berkumpul dan tidak tabu membicarakan hal-hal yang pantas dan tidak pantas dalam keluarga adalah cara berkomunikasi untuk bisa membiasakan sensor mandiri.

Sejak dari SD, saya masih ingat mama saya membekali budaya sensor mandiri, misalnya dengan menonton televisi walaupun itu hanya white snake legend tetap saja didampingi. Dan ketika ada adegan pelukan, secara otomatis kita malu dan menutup muka dengan tangan.

Kalau melihat tontonan jaman sekarang, mereka yang di bawah umur melihat adegan ciuman saja tidak ada rasa malu. Malah kadang melotot. Kalau dari 10 orang, paling 2 orang saja yang masih memalingkan muka dan malu-malu melihat adegan tersebut.

Menyedihkan.
Tentunya, kita punya saringan untuk film yang beredar, yaitu : Lembaga Sensor Film (LSF) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Keduanya mempunyai maksud yang sama menjaga moral anak bangsa dari adegan yang mengajarkan pada kekerasan, dan pornografi. 

Pihak dari LSF juga menjelaskan pada saat #RoadBlogJogja bahwa mereka berusaha meminta pihak produser untuk mengubah bahkan menghilangkan adegan yang tidak sesuai dengan aturan perfilman di Indonesia dengan adegan lain yang sesuai, jika itu tidak bisa dihilangkan karena menjadi bagian dari cerita. Kalau adegan tersebut hanya sebatas bumbu, mungkin bisa di cut.

Mengingatkan kembali pada insan pertelevisian : 

UU NO 33 TAHUN 2009, Pasal 6 mengatakan bahwa film yang menjadi unsur pokok kegiatan perfilman dan usaha perfilman dilarang mengandung isi yang  
  1. Mendorong khalayak umum melakukan kekerasan dan perjudian serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
  2. Menonjulkan pornografi.
  3. Memprovokasi terjadinya pertentangan antar kelompok, antar suku, antar ras, dan/atau antar golongan.
  4. Menistakan, melecehkan, dan/atau menodai nilai-nilai agama, mendorong  khalayak untuk melakukan tindakan melawan hukum; dan/atau merendahkan harkat dan martabat manusia.


Roadblog Jogja

Saya seorang blogger yang sekaligus seorang istri rumah tangga. Menuliskan tentang artikel yang berkenaan dengan #SensorMandiri karena saya ingin menjaga generasi muda penerus bangsa Indonesia dari hal yang sedikit banyak berpengaruh pada mentalnya.

Yuk jaga generasi penerus bangsa dengan menghasilkan tontonan yang menjadi tuntunan baik bagi kebaikan bangsa Indonesia.Mulai dari diri sendiri, meluas ke keluarga terdekat dan kita jaga Indonesia.

10 komentar:

  1. Aku jadi selalu menahan diri nonton film detektif yang sering ada adegan pembunuhannya. Demi sensor mandiri ke anak. Haha!

    BalasHapus
    Balasan
    1. sensor mandiri dari keluarga yaaaa diba..

      Hapus
  2. Iya, sekarang yang patut disalahkan adalah orang tua dan lingkungan keluarga kalau anak kecil zaman sekarang banyak yang aneh-aneh karna memang film yang bukan buat range usia mereka diperbolehkan ditonton oleh orang tua nya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betullll. karena orang tuanya juga pingin nonton ya mba. hehehehe

      Hapus
  3. Iya, aku sendiri kasih pelajaran sensor ke Najin sudah sekalian. Khususnya sensor adegan kekerasan, bulan Dr TV tapi Dari internet

    BalasHapus
  4. Bener manda, sensor mandiri itu penting banget..

    BalasHapus
  5. Budaya sensor mandiri itu bener banget mbak.. harus dari lingkup terkecil. Diri sendiri dan keluarga. Thanks for sharing :)

    BalasHapus
  6. Iya, dulu waktu kecil ada adegan berpelukan ajah yg nonton malu... beda sama sekarang... adegan ciuman ajah seolah udah biasa

    BalasHapus
  7. Bener, kalau saya anak2 lbh dibiasakan main, menggambar, mewarnai ketimbang nonton TV. TV saya taruh agak ke atas dan kalau anak kecil yg nonton agak mendongak, jd bikin mereka males nonton tv.

    BalasHapus
  8. kita juga yang harus peduli sensor mandiri ya

    BalasHapus