IBX583577287E51C

Kamis, 07 April 2016

Belajar Percaya Diri dari Hal yang Memalukan

quotes of the day
Quotes Manda

Yeayyy #ODOP11. Nggak terasa banget, sudah hari kesebelas dan mencari ide ternyata susah-susah gampang ya. Meskipun temanya sudah ada sejak 11 hari yang lalu, tapi entahlah, terlalu banyak ide sehingga ujung-ujungnya menulisnya ya pas hari H dan selalu, mepet deadline. Wkwkwkwkwk. So far, asyik ada challenge One Day One Post. 

Kali ini temanya, hal memalukan yang tak terlupakan. 

Apa ya? Secara sebagai manusia yang normal, wajarlah manda pasti pernah melakukan hal konyol yang tidak terlupakan malunya. Untuk bisa memprioritaskan tingkat kekonyolannya, hingga menjadi terkonyol, rasanya tidak ada definisi yang pas untuk itu. Kali ini manda berbagi cerita memalukan yang pernah manda alami ya. Semoga menjadi pembelajaran, bahwa hidup tidak selalu sempurna. Dari hal-hal yang memalukan pun, kita bisa belajar melawan rasa malu. Ya kan?

Seperti tulisan manda sebelumnya, bahwa masa kecilku  bahagia dengan papa dan mama yang agak over-protect terhadap kedua anak gadisnya. Kata mama, ibarat kami ini adalah gelas kristal yang harus dijaga baik-baik. Sekali tergores akan meninggalkan bekas, jangan sampai pecah. Ya, itulah selalu jawaban mama, ketika kami berdua protes apa-apa selalu diantar. hihihihi.

Udah nggak sabar, mau tahu hal memalukan yang manda anggap hal konyol yang mewarnai kehidupanku tiga puluh tahun ini, apa aja ya? Yuk diintip yaaa...

Diseret atau digendong? Bisa dibayangkan, digendong belakang di saat tinggi badan hampir menyamai yang menggendong. Duh, rasa-rasanya ini pengalaman berkesan menjadi anak wedoknya papa. Setiap kali pulang dari bepergian di malam hari, kami selalu tertidur di mobil. Alhasil, mama menggendong adik dan saya digendong papa. Karena saya bongsor, kaki saya menyentuh tanah, dan kebayang dong ya, malunya itu karena merasa menjadi karung yang diseret di punggung sama papa. Dan itu komentar tante dan omku setiap kali mereka masih di depan rumah dan melihat papa menyeretku  menggendongku di belakang.

Refleks naik di eskalator turun. Duh, ini terjadi saat saya nge-mall *ecieh gayanya, sewaktu SMA dan hari itu janjian makan di Galeria Mall sama panda. Sayanya naik bis, panda naik motor, janjian di TKP. Eh kalau nggak dilurusin takutnya mama papa membaca, hihihihi. Karena mungkin saking senengnya, ada dua eskalator di dalam Matahari, begitu saya belok, saya otomatis mancalin kaki. Eh baru mancalin kaki dua langkah *kebiasaan saya di eskalator, begitu naik trus melangkah dulu* kok berasa turun. Nah saya kebingungan, dan terus berusaha naik naik naik naik lagi. Dan setelah adegan seperti hamster selama beberapa detik, panda sigap bilang, "udah yang, diem aja di situ, nanti kan ikut terbawa turun". Barulah sadar, bahwa solusinya sederhana banget ya. Saya diam dan turun lagi ke bawah dibawa eskalator. Sebenernya sepele dan tidak ada yang terluka, hanya saja malunya itu lho. Kebawa samapi sekarang!

Guyonan Temen MM yang Bikin Nangis. Jadi ceritanya pernah ambil kelas MM sabtu minggu, kebayang dong ya malesnya sabtu (malam minggu), kami masih kuliah. Di tengah perkuliahan yang membosankan, teman sebelah manda iseng bange, yang kurang lebih percakapannya seperti ini :

Fajjar : "Mba, aku punya temen kasian banget deh!"
Manda : "Eh, kenapa gitu dek?"
Fajjar : "Masak dia nggak bisa nafas sambil melet (baca : menjulurkan lidah)"
Manda : "Hah, cuma gitu aja nggak bisa. Masak sih?"
Fajjar : "Emang mba ima bisa?"
(dengan polosnya seorang manda)
Manda : praktekin tuh nafas sambil menjulurkan lidah.
Fajjar : ketawa dan ngekek bangeettttt.
Manda : masih nggak paham.
Dan sepersekian menit, saya sadar itu kan menyerupai sebuah sesuatu. *tahu sendiri kan?

Duh, antara sakit hati, antara polos banget, antara ngrasa bodoh banget ni dikerjain, yang paling nggak tahan itu malunya! Dan setelah sadar, saya ketawa tidak bisa menahan, sampai menangis. Bisa dibayangkan, malu saya sampai dong ke dosen yang mengajar. Dan saya tambah malu lagi. Hiks.

Manda : Pak, maaf, saya ijin ketawa banget ya. Ini saya baru saja diisengin. *sambil ketawa bercampur malu dan air mata itu begitu saja netes saking saya nggak bisa nahan ketawa.
Bapak : Gimana mba, ada apa? 
Fajjar : Menceritakan kronologi. Dan saya diijinkan membasuh muka serta keluar kelas untuk beberapa saat sampai tenang kembali.

Nah, udah tahu kan hal memalukan yang nggak semuanya bisa kutulis di sini, setidaknya mewakili lah kalau saya juga manusia. Ecie, malah nyanyi. Kalau boleh tahu, hal memalukan apa yang pernah sahabat manda alami, boleh ditulis di bagian komentar ya.. Terima kasih.

Berani malu itu belajar! Belajar ketidaksempurnaan dan menjadi Percaya Diri. (manda, 2016)

9 komentar:

  1. kirain nahan ketawanya karena ngompol ehh

    BalasHapus
  2. Aku suka kalimat penutupnya, Manda <3

    BalasHapus
  3. Ikut ketawa, maaf ya manda, hahahaha

    BalasHapus
  4. ahahah saya juga pernah tuh salah naik eskalator turun ;p

    BalasHapus
  5. Wakakaka..mbayangke Manda neng eskalator koyo hamster :))

    BalasHapus
  6. oh gitu ya , padahal aku sering suka malu2in juga

    BalasHapus
  7. Wakakakak. Ngguyu baca komen mak prim. Ya..ya..untung manda gak ceritain melet versi kedua. Hihi

    BalasHapus
  8. Buah keisengan temen2nya ya jadi ada pengalaman :D

    BalasHapus
  9. Koq samaan ya mba omongan mama kita :), "ibarat kami ini adalah gelas kristal yang harus dijaga baik-baik".

    BalasHapus