IBX583577287E51C

Selasa, 22 Maret 2016

Aku Cinta Indonesia

Berkesempatan hadir di acara netizen gathering yg acaranya berupa ngobrol bareng MPR RI . Ternyata acara ini dihadiri oleh Bapak Zulkifli Hasan selalu ketua MPR, Bapak sekjen MPR Ma'ruf cahyono dan Bapak Sumanjaya. Ketiganya adalah negarawan yang membuat saya, generasi muda, anak bangsa merasa bahwa NKRI lebih baik dan diperjuangkan keberadaanya.


MPR majelis permusyawaratan rakyat, yg saat ini tidak lagi membuat Tap MPR, mereka tetap harus mensosialisasikan Tap MPR yg masih berlaku. Memasyarakatan 4 pilar agar rakyat paham sehingga muncul kepedulian sehingga permasalahan negara yang muncul adalah masalah kita bersama.




Seperti yg disampaikan bapak sekjen pada dialog santai Malam ini, sosialisasi MPR mengadakan acara netizen agar membantu sosialisasi bahwa MPR adalah rumah aspirasi, rumah kebangsaan, dan pengawal ideological pancasila Dan kedaulatan rakyat. Metode yang sudah digunakan MPR dalam sosialisasi, melalui : TV, radio, media cetak, online, website mpr.go.id. Harapannya dari netizen, MPR membuka pintu seluas-luasnya terhadap ide, masukkan membangun, yang bisa disampaikan langsung ke MPR. 


Reformasi yang sudah berlangsung selama 18 tahun yang lalu, menciptakan sebuah kebebasan. Oleh karenanya sosialisasi MPR juga bukan seperti doktrin seperti yg jaman Orba diterapkan. MPR berharap mendapatkan masukkan dari masyarakat dan bagaimana menyampaikannya  kembali ke masyarakat. MPR butuh dukungan kita semua, warga negara kesatuan Republik Indonesia. Karena segala yg terjadi di negeri ini adalah tanggung jawab kita.




Di bagian akhir, diskusi pagi bersama Bapak Sumanjaya, yang membahas tentang Radikalisme. Dari artinya, fundamental versus Radikalisme, Fundamental adalah pilar/pondasi/dasar. Radikal, dari kata radik yaitu akar, tumbuh dari dalam. Fundamentalis seperti ekstrem. Seseorang yg fundamentalistik,  tidak mau bergerak jika ada masukan yg lebih baik darinya. Dia punya barrier, shg apapun masukan tidak akan menggoyahkan. Radik (akar) menghasilkan batang, ranting dan buah. Jika akar setuju dengan lingkungannya, dia akan tumbuh sesuai lingkungan sekitarnya. Fundamentalistik,  tidak bisa melihat perbedaan. Memang sudah karakter seseorang yg tumbuh krn faktor keluarga. Hal yang melatar belakangi adalah :

  1. Keluarga: selalu dicerca, dikutuk, dibentak, tidak diapresiasi, jarang dipuji, tidak ada komunikasi.
  2. Proses pendidikan yg kurang.
  3. Keyakinan.
  4. Dan lalu setiap orang punya Pilihan yg menentukan seseorang radikal atau fundamental.
Nilai radikalisme yang disampaikan pak Sumanjaya disampaikan sangat apik, dari lagu kebangsaan, yaitu : 
  1. garuda pancasila, 
  2. tanah air beta, dan 
  3. dari sabang dari merauke. 


Dan jelaslah bahwa sebenarnya radikalisme sebenarnya komunikasi yang diawali dari prasangka yang baik, lalu pertimbangkan dulu benar salahnya. Di akhir acara, pak Suman menyampaikan harapan bahwa netizen hendaklah seperti guru yang punya hati nurani. Netizen sebagai jembatan untuk perbaikan bangsa, jangan memutarbalikkan fakta, mengabarkan kebenaran.Membantu menyelesaikan permasalahan dan bukannya menyulut permasalahan. Siap menjadi blogger yang berhati nurani.

Salam,

4 komentar:

  1. Pesan yang bagus sekali.
    Semoga kita semua jadi blogger yang berhati nurani ya mbak Ima. Aamiin

    BalasHapus
  2. Peran nitizen sekarang memang besar,karena anak-anak dan remajapun udah melek internet

    BalasHapus
  3. NKRI harga mati :D iyakan mbak :D

    BalasHapus